Lynx, yang merindukan Leena, tidak menyadari bahwa pikirannya telah dipengaruhi oleh asap beracun yang mengandung perangsang. Ketika tubuhnya berusaha menetralisir racun tersebut, keinginan yang membara untuk Leena tetap menguasai pikirannya, mendorongnya untuk bertindak tanpa kendali.

Di sisi lain, Ling Mei yang mulai sadar merasa terkejut. Namun, asap racun sudah menyusup dalam pernapasannya, memengaruhi pikirannya dengan cara yang tak terduga. Meskipun sempat muncul rasa berontak dalam dirinya, tatapan penuh kerinduan dan ciuman dari Lynx membuatnya tak dapat lagi mengendalikan diri.

Dalam pengaruh asap beracun, mereka saling mencium dan membelai, Lynx melepaskan seluruh pakaiannya dan melanjutkan memeluk Ling Mei dan mencumbunya. Lynx menciumi seluruh tubuh Ling Mei, melepaskan segala kerinduannya.

Didalam gua tersebut, suara desahan Lynx dan rintihan Ling Mei terdengar, membuat seseorang yang mendengarnya di luar gua tersenyum.

"Tidak kuduga, menemukan orang lain di tempat ini yang bisa kumanfaatkan. Tapi siapa mereka? Apakah Xiao Ling dan Ling Mei? Tidak, tidak mungkin itu mereka. Seharusnya mereka sudah mati. Pasti orang lain yang juga berusaha masuk ke tempat ini dan memanfaatkannya untuk bermesraan," batin Yin Yue.

Frustrasi karena tak mampu menghadapi binatang iblis di pintu formasi, Yin Yue memilih menjelajahi dunia kecil di lapisan kedua, berharap menemukan sesuatu yang dapat dimanfaatkannya. Namun, tak disangka, saat tiba di tempat ini, suara desahan dan rintihan seorang pria serta wanita terdengar samar.

Ia mencoba mengintip, tetapi sebuah formasi tak kasat mata menghalanginya. Matanya menyipit, menimbang kemungkinan yang ada. Alih-alih pergi, Yin Yue memutuskan menunggu. Ia ingin melihat siapa mereka dan mencari cara untuk membujuk mereka ke tempat itu sebagai umpan.

Beberapa jam kemudian, Lynx merasakan ada sesuatu yang aneh. Qi di tubuhnya menghilang, habis tanpa sisa. Energi yang telah ia kumpulkan sejak sadar dari hilang ingatan dan menyegel kekuatan aslinya kini lenyap tanpa jejak.

Kesadarannya langsung terjaga sepenuhnya. Ia menunduk dan mendapati sesuatu yang melilit kakinya dengan lembut, begitu halus hingga ia tak menyadarinya sejak tadi.

Lynx segera melirik ke bawah dan melihat akar tanaman merambat di kakinya dan kaki Ling Mei. Matanya menyipit tajam. Seketika, ia berdiri dan menghentikan kegiatannya. Dengan satu gerakan cepat, ia memotong akar yang melilit mereka dengan sinar laser dari matanya.

Namun, begitu akar-akar itu terbakar hangus, mereka justru mengamuk. Lebih banyak akar bermunculan, merambat dengan kecepatan mengerikan, berusaha menangkap mereka kembali.

Melihat hal itu, mata Lynx berkilat. Dari kedua matanya, laser tak kasat mata melesat, menebas akar-akar yang mendekat dengan presisi sempurna. Setiap pancaran cahaya itu membakar akar-akar dalam sekejap, membuat mereka terjatuh dan mengering dalam hitungan detik.

Namun, akar-akar itu terus bermunculan, semakin banyak dan semakin cepat. Lynx tidak memiliki waktu untuk mencari asal tanaman itu. Jika ia terus bertahan di sini, mereka akan terseret ke dalam bahaya yang lebih besar.

"Ling Mei, kau tidak apa-apa?" Lynx segera menggendong Ling Mei, memeriksa keadaannya. Tubuhnya basah oleh keringat, napasnya tersengal, dan energinya telah berkurang drastis akibat dihisap tanaman itu.

Ling Mei membuka matanya dengan sayu, tetapi alih-alih menjawab, ia justru mendekat, berusaha mencium Lynx.

Seketika, Lynx menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Matanya menyapu sekitar dan ia akhirnya melihatnya, racun di udara. Sejak awal, asap tipis yang menyelimuti tempat ini bukanlah energi iblis, dan tubuh Ling Mei hanya terlindungi dari energi iblis. Tanpa ragu, ia segera menyalurkan energinya, menetralisir racun yang telah mengalir di tubuh Ling Mei.

Namun, asap itu semakin menebal, mengepung mereka dengan ganas. Lynx tak ingin mengambil risiko lebih jauh yang membahayakan Ling Mei.

"Tempat ini ternyata sangat berbahaya. Aku terlalu ceroboh," gumamnya. "Kita harus segera pergi dari sini!"

Tanpa membuang waktu, ia segera membuka formasi pelindung gua dan melesat keluar dengan kecepatan penuh.

Di tempat lain, Yin Yue duduk menunggu dengan wajah kesal. Sudah begitu lama, namun tak ada tanda-tanda orang di dalam gua itu keluar.

Namun, tiba-tiba, suara gemuruh terdengar. Yin Yue segera bangkit dan mendekati gua. Matanya segera terangkat, dan alisnya berkerut tajam saat menyadari sesuatu, formasi pelindung gua itu telah lenyap.

Namun yang ia lihat bukanlah sosok yang dinantikannya. Sebaliknya, akar-akar tanaman keluar dari dalam gua, merambat liar, seolah hendak menangkap siapa pun yang berada di dekatnya.

Mata Yin Yue menyipit. "Sial!"

Ia segera mencabut pedangnya dan menebas akar-akar yang mendekat. Namun, pikirannya bergejolak. "Kemana mereka? Apakah mereka tertangkap oleh tanaman ini? Ataukah mereka melarikan diri tanpa kusadari?"

Rasa kesal membuncah di hatinya. Penantiannya ternyata sia-sia.

Lynx melesat dengan kecepatan luar biasa, membawa Ling Mei yang masih bergerak gelisah di dalam gendongannya. Tubuhnya terasa panas, napasnya tersengal, dan matanya berkabut, jelas masih terpengaruh sisa racun yang mempengaruhi pikirannya.

“Xiao Ling…” Ling Mei bergumam lirih, tangannya terangkat, berusaha meraih wajahnya.

Lynx mengerutkan kening. Dengan satu lompatan panjang, ia melintasi bebatuan besar dan terus bergerak menjauhi gua beracun itu. Namun, dalam kecepatan tinggi, ia tak menyadari sesuatu—kalung artefak yang dikenakan Leena terlepas dari tubuhnya dan jatuh ke tanah.

Angin yang berputar kencang akibat kecepatannya membuat kalung itu terseret, dan kristal roh yang tertanam di dalamnya membentur batu keras.

Retak!

Sebuah kilatan cahaya samar muncul, lalu kristal itu pecah tanpa suara, melepaskan energi roh yang terkunci di dalamnya.

Sementara itu, Lynx terus melaju. Namun, di tengah perjalanannya, matanya menangkap sesuatu.

Seekor binatang iblis besar berdiri di jalurnya. Sosoknya seperti serigala berlapis baja, dengan taring tajam dan mata berkilat merah. Qi buas menguar dari tubuhnya, menandakan bahwa ia bukan makhluk biasa.

Lynx tidak melambat.

Begitu binatang itu melompat menerkam, mata Lynx bersinar tajam. Dari pupilnya, dua pancaran laser tak kasat mata melesat, menembus kepala binatang iblis itu dengan presisi sempurna.

Srak!

Dalam sekejap, tubuh binatang iblis itu terhenti di udara, lalu jatuh dengan suara berat, tak bergerak lagi.

Lynx menatap mayat binatang itu sejenak. “Binatang iblis ini ada di sini sendirian… Seharusnya tidak ada lagi yang lain di sekitar sini.”

Ia akhirnya memperlambat langkah, mencari tempat yang cukup aman. Setelah menemukan batu besar yang cukup terlindung, ia segera menurunkan Ling Mei dengan hati-hati.

Dengan satu gerakan tangan, ia mengeluarkan pakaian dari cincin penyimpanannya dan mengenakannya. Setelah itu, ia mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Ling Mei yang masih terbaring dengan napas tersengal.

Mata Lynx menyapu Ling Mei, memastikan keadaannya. Ia lalu duduk bersila di sebelahnya, menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Energi yang terkontrol dengan sempurna mengalir dari tubuhnya, masuk ke dalam tubuh Ling Mei, menetralisir sisa-sisa racun yang masih bercokol di dalamnya.

Sesaat kemudian, tubuh Ling Mei tampak lebih rileks. Napasnya melambat, keringat dingin yang membasahi dahinya mulai mengering. Lalu, tubuhnya melemas, seperti jatuh dalam pingsan sejenak.

Lynx tetap diam, menunggu.

Tak lama, kelopak mata Ling Mei bergerak. Napasnya lebih stabil, dan matanya perlahan terbuka.

Lynx menatapnya dengan tenang. “Kau sudah sadar?”

Ling Mei mengerang pelan, tangannya terangkat ke kepalanya yang terasa berat dan pusing. “Apa yang terjadi…?” gumamnya dengan suara lemah sambil menatap Lynx.

Lynx, yang duduk di dekatnya, segera menoleh. “Kau sudah sadar,” ujarnya dengan nada tenang.

Ling Mei memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Namun, saat kepingan-kepingan ingatan itu mulai tersusun, matanya tiba-tiba membelalak. Wajahnya memerah seketika, bukan hanya karena rasa malu, melainkan kemarahan yang membakar seluruh tubuhnya.

“Kau…” Napasnya memburu. “Kau…!”

Lynx melihat perubahan ekspresinya dan langsung menyadari apa yang terjadi. “Ling Mei, dengarkan aku, aku bisa menjelaskannya—”

Srak!

Kilatan dingin berkelebat saat Ling Mei menghunus pedangnya tanpa ragu. Niat membunuhnya meluap seperti gelombang badai, begitu padat hingga udara di sekitar mereka terasa bergetar.

“Kau berani menyentuhku!” teriaknya penuh amarah.

